19 Jul 2013

Perbedaan dalam umat adalah rahmat

Hati kita bagaikan selembar kertas putih apabila diteteskan dengan tinta hitam lama kelamaan akan menjadi hitam dan kelam yang berarti kertas tersebut tidak ada fungsinya untuk menuliskan sesuatu, sebaliknya jikalau kertas tersebut putih tidak ada tetesan tinta tentunya akan terasa indah untuk menuliskan kalimat kalimat penuh hikmah.
Hati juga bagaikan kaca untuk bercermin, semakin kotor kaca tersebut semakin tidak dapat memantulkan gambar sesuai dengan aslinya, sebaliknya semakin bening kaca tersebut, maka semakin dapat pula kita melihat wajah kita sesuai dengan bentuk aslinya.
Hati yang dikotori dengan hawa nafsu akan sulit memahami suatu perkara dengan pemahaman yang benar, karena yang menjadi pondasinya  bukan mencari kebenaran, akan tetapi  apa yang sesuai dengan syahwat dan hawa nafsunya.  Oleh karena itu, orang yang ingin mencari kebenaran hendaklah membersihkan hatinya dari dua penyakit yang kronis yaitu hawa nafsu dan syahwat.
Hati yang lembut akan sangat mudah menerima hidayah sedangkan hati yang keras laksana batu akan sangat sulit menerima suatu kebenaran, hidayahpun akan enggan menghampirinya.  Dan tugas setan adalah menggoda manusia untuk tidak menerima kebenaran, setan akan sangat bahagia jika  semakin banyak manusia yang menjadi followernya dalam melakukan maksiat, ia pun akan sangat bangga jika jumlah followernya semakin bertambah banyak.
Diantara cara yang ditempuh adalah menjadikan manusia bingung keheranan ditengah tengah keberagaman pemahaman dan pemikiran, kebenaran  menjadi samar bahkan digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, dan kebatilan dihiasinya dengan berbagai macam hiasan.
Tidak bisa kita pungkiri bahwa umat Islam pada zaman sekarang  telah terpecah  belah dan terkotak kotak, setiap kelompok akan bangga dengan atribut kelompoknya, sehingga menimbulkan fanatisme terhadap kelompok tersebut,  dalam bahasa agamanya berarti  ta’asub hizbiyyah atau fanatic terhadap suatu golongan atau kelompok.
Sebagai contoh: ada sekelompok  orang yang menimba ilmu terhadap satu orang  guru saja, maka apa yang disampaikan oleh guru tersebut akan ditelan bulat bulat sehingga menjadi sebuah pedoman/ketetapan hukum sehingga ia tidak akan menerima  pendapat atau masukan dari orang lain, ini adalah cikal bakal perpecahan dikalangan umat. Coba bayangkan jika ada sepuluh orang  yang bersilang pendapat mempertahankan pendapatnya masing masing tanpa merujuk pada suatu ketetapan hukum yang pasti maka akan terjadi suatu pertikaian alangkah baiknya jika perbedaan pendapat tersebut dijadikan khasanah dalam persatuan.
Banyaknya kelompok kelompok yang ada pada zaman ini  membuat mereka sendiri kebimbangan apakah yang dilakukannya itu benar atau salah, Allah meridhoi atau tidak.  Mereka saling berselisih, bermusuhan, membenci  dan tidak bertegur sapa.  Setiap kelompok memahami suatu perkara  sesuai degan pemahaman versi mereka masing masing dan merasa bangga dengan pendapatnya padahal belum tentu yang mereka anggap baik itu baik menurut Allah dan Rasul-Nya.

Kita bangga bahwa umat islam dinegara kita merupakan yang terbesar didunia, mengalahkan arab Saudi, Mesir dan Negara  Negara islam dibelahan dunia lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting